Jumat, 29 April 2011

MIRIS :POLISI PRANCIS AND BELGIA MERAZIA WANITA BERLJILBAB

PHOTO PELECEHAN TERHADAP JILBAB


KAMPANYE MEREKA MENOLAK PERKEMBANGAN ISLAM YANG PESAT


PEMERINTAH Prancis resmi melarang penggunaan jilbab atau burka di tempat umum, kemarin. Menurut Reuters, kepolisian telah menerima arahan untuk mengimplementasikan pelarangan jilbab serta denda US$216 (sekitar Rp2 juta) bagi yang melanggar.

Peraturan itu sontak ditentang kaum muslim di Prancis. Rachid Nekkaz, makelar properti muslim menyerukan unjuk rasa di depan Gereja Katedral Notre Dame, Paris, melalui jejaring sosial.

"Saya menyeru kepada perempuan yang ingin bebas menggunakan jilbab di jalan," ujar Nekkaz yang telah menyiapkan properti senilai dua juta euro untuk mendanai kampanye itu.

Walaupun menjadi kaum minoritas, populasi muslim Prancis yang mencakup 5 juta jiwa merupakan jumlah terbesar di negara-negara Eropa Barat. Dari jumlah itu, kurang dari dua ribu perempuan yang menggunakan jilbab.

Penerapan larangan pemakaian jilbab dan burka menjadi lebih sensitif setelah partai politik berkuasa UMP yang dipimpin Presiden Nicolas Sarkozy memperdebatkan status kependudukan warga muslim di Prancis. Langkah itu dinilai sebagian pengamat menggarisbawahi stigma terhadap warga muslim. (SZ/Reuters/I-5)
AKAN LARANG SHALAT BERJAMAAH JUGA, PHOTO SHALAT BERJAMAAH DI PERANCIS DI JALAN KARENA PERKEMBANGAN MUSLIM BEGITU PESAT


PARIS, RIMANEWS - Pemerintah Prancis berniat kembali menggulirkan kebijakan anti-Islam setelah sebelumnya, undang-undang kontroversial larangan pemakaian jilbab, mendapat protes hebat dari umat Islam. Dengan alasan karena warga Muslim menunaikan shalat di pinggir jalan, pemerintah Prancis berniat membatasi kebebasan warga Muslim dalam menunaikan kewajiban agama mereka.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Claude Guéant, yang dikenal sebagai salah satu politisi think-tank politik anti-Islam di negara ini, menetapkan peraturan baru melarang pelaksanaan shalat jamaah di pinggir jalan.

IRNA melaporkan, koran Le Parisien dalam hal ini menulis, Guéant mengatakan, "Kami tengah mencari cara untuk melarang penunaian shalat berjamaah di pinggir jalan."

Mendagri Prancis mengemukakan pernyataan itu di saat penunaian shalat berjamaah di pinggir jalan, sangat jarang terjadi, dan biasanya hanya dilakukan di wilayah-wilayah yang memiliki fasilitas sangat terbatas atau batasan yang dilakukan pemerintah. Selain itu, warga Muslim Prancis juga menunaikan shalat berjamaah itu tanpa mengganggu orang lain.

Menjawab pertanyaan soal sedikitnya jumlah masjid di Perancis, Guéant mengatakan, di Prancis dapat dibangun masjid yang lebih banyak. Namun Guéant tidak memberikan keterangan lebih rinci bagaimana masjid-masjid tersebut dapat dibangun.

Di kota Nice misalnya, hanya terdapat dua masjid, dan warga Muslim di kota itu harus menempuh jalan jauh untuk pergi ke masjid. Namun masalah yang paling penting adalah bahwa kedua masjid itu tidak mampu menampung seluruh warga Muslim yang hendak menunaikan shalat berjamaah.

Terkait implementasi larangan shalat berjamaah di tepi jalan itu, Guéant menjelaskan, "Harus ada cara untuk menghentikan shalat berjamaah di tepi jalan, dan saya secara pribadi memprioritaskan penggunaan "kekuatan" dalam menjalankan ketentuan tersebut.

Guéant hingga kini telah berulangkali menarget umat Islam, termasuk penilaiannya terhadap peningkatan jumlah warga Perancis yang memeluk agama Islam. Kondisi ini menurut Guéant sangat disayangkan dan akan menjadi kendala serius bagi Perancis.

Sejumlah politik anti-Islam dalam pemerintahan Perancis yang beberapa waktu lalu melarang penggunaan burka, telah memasuki tahap baru yang lebih serius. Kebijakan itu direaksi negatif oleh opini umum Barat.

Laurent Booth, saudara perempuan istri mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair, dalam wawancaranya dengan IRNA, menepis klaim para pejabat Prancis bahwa kaum perempuan yang mengenakan burka merupakan ancaman teror dan keamanan.

Dikatakannya, "Kaum perempuan berjilbab sebetulnya memang merupakan ancaman bagi negara-negara Barat. Namun ancamannya tidak dalam bentuk kekerasan seperti yang diklaim oleh para politisi Barat, melainkan karena busana Muslimah pada hakikatnya telah menyoal kebebasan kaum perempuan di Eropa dan Amerika." [mam/republika]
source : kaskus

1 komentar:

I have been browsing online more than three hours today, yet I
never found any interesting article like yours.
It is pretty worth enough for me. In my view, if all
site owners and bloggers made good content as you did, the internet will be
much more useful than ever before.

Also visit my webpage usana

Poskan Komentar